LOL
(Source: hogwartswillalwaysbemyhome, via harrypottergif)
LOL
(Source: hogwartswillalwaysbemyhome, via harrypottergif)
horcruxes
(Source: whoreccrux, via airbornlove)
Pernahkah kau merasa ditenggelamkan kedalam samudera yang bisa membunuhmu jika akhirnya kau mencapai dasar?
Pernahkah kau merasa dijatuhkan kedalam jurang yang curam dan bahkan satu gesekan tebingnya bisa merobek kulitmu?
Pernahkah kau merasa diterkam dari belakang oleh seekor binatang yang selama ini kausayangi sampai akhirnya kau tidak percaya lagi?
Aku pernah. Setidaknya saat ini aku sedang merasakannya.
Bagaimana harapan yang hancur menenggelamkan seluruh asa yang ku kumpulkan seperti hembusan angin yang membawa pergi debu-debu bersamanya.
Bagaimana tiap masalah membawaku jatuh terlalu dalam dan mencoba bangkit dengan tertatih-tatih dengan masih menahan perih yang membahana.
Bagaimana sahabat yang telah ku percaya dengan sepenuh hati tidak pernah ada saat kubutuhkan dan malah meninggalkan ku sendiri dikala terpaan badai membawaku melayang-layang diangkasa tanpa daya.
Setidaknya aku masih disini dan bercerita pada kalian semua saat ini. Merasa bahagia meskipun aku sendirian menghadapi semuanya. Merasa berguna walaupun tidak ada yang meminta bantuanku. Merasa bersyukur masih diberi satu hari lagi untuk menghirup jutaan molekul oksigen didunia.
Aku tidak sempurna dan tidak akan pernah sempurna. Maka sebaiknya aku mengalah bila kalian merasa yang paling benar. Karena bagi kalian, akulah yang salah. Selalu aku yang salah. Bukan yang lain meskipun kenyataannya tidak kalian ketahui sepenuhnya.
Aku terima semuanya. Semua tuduhan dan semua kesalahan yang memang dan tidak aku lakukan. Aku terima semuanya dengan tangan terbuka dan menjadikannya takdir tersirat atas adanya aku hidup bersama kalian. Hanyalah seberkas debu pengganggu yang tidak dihiraukan jika membawa kebaikan dan dipermasalahkan hingga dijelekkan jika melakukan hal yang tidak mengenakan sekecil apapun.
Aku seorang penyendiri dan kalian tidak memahami apa maknanya bagiku untuk berada sendiri disuatu tempat. Itulah bagaimana aku bekerja. Bagaimana otak dan jemariku bekerja dengan sinkronisasi yang mungkin tidak dapat kalian bayangkan sebelumnya. Tidak ada artinya pandangan aneh kalian padaku saat aku sedang sendirian. Aku seorang penyendiri dan selamanya akan seperti itu.
Kalian disana saat membutuhkanku dan aku juga selalu ada untuk kalian. Tapi kalian secara sakti menghilang saat aku membutuhkan kalian. Sekedar support maupun tepukan dibahu pun tidak kudapatkan.
Air mataku jatuh dengan percuma kala aku menjalin kalimat-kalimat diatas. Karena aku tahu kalian tidak merasakan apa yang kurasakan. Kalian tidak tahu risau yang kurasakan dibalik senyum terpaksa dibibirku setiap saat. Kalian tidak mengerti apa arti imajinasi yang meluap-luap didalam otakku dan alasan mengapa aku tidak bisa berbicara didepan orang banyak selancar aku menuliskan kata-kata dikertas kosong.
Kalian hanya menganggap aku tak mampu, aku tidak bisa, aku tidak perlu diperhitungkan sebagai saingan. Tak masalah. Tak masalah..
Maka biarkan aku menuliskan hal yang seharusnya kukatakan secara langsung pada kalian semua, orang-orang yang kusebut temanku,
‘Jangan perlakukan teman kalian seperti kalian memperlakukanku. Aku tidak pernah akan masalah jika kalian seperti itu, tapi belum tentu dengan orang lain diluar sana yang sudah terlanjur merasa kalian adalah temannya. Tidak ada yang lebih berat dibandingkan dengan dibiarkan sendiri menahan beban berat yang sebenarnya bukan ia sendiri yang menyebabkannya.’
Maaf aku tidak bisa mengatakannya sendiri pada kalian…
Sidoarjo, 26 Mei 2012. Pukul 19.41 WIB
Dipojokan rumah kecil milik orangtuaku aku menulisnya dengan airmata tertahan..
“The three of us really had to pull it together and hold each other up. And of course, the border around the 3 bars stands for our fans and our touring family.” - Hayley Williams, ParamoreCity Interview
(Source: paramoreeh, via likesparamore)
The Hunger Games
(via peenisseverlark)
terinspirasi dari sebuah cerita oleh seorang teman. trust me, cerita ini fiksi. hanya saja dibumbui sedikit nonfiksi yang ga bisa saya kasih tahu bagian mananya :)
.
.
Ini bukan cerita tentang gue. Tapi cerita tentang 3 temen gue, dimana gue berada dalam lingkaran cerita hidup mereka yang rumitnya setengah mati. Gue biasa disebut ‘tempat sampah’. Gue tahu apa yang mereka semua rasain, saat salah satu dari mereka bahkan sama sekali ga menyadarinya.
Jadi gini awalnya,
5 tahun yang lalu
Gue berdiri dilapangan basket ditengah-tengah gedung SMA gue di pinggiran kota Jakarta, bersama puluhan murid yang lain yang meneriaki satu pasang cewek-cowok yang lagi berdiri berhadapan ditengah lapangan. Yang cowok, namanya Ryan. Yang cewek, Adita. Mereka berdua sobat deket gue karena kita bertiga ada disatu kelas yang sama di tahun pertama SMA ini.
Tiba-tiba gue ngerasain ada yang nepuk pundak gue dari belakang. Gue menoleh. Cewek yang tingginya ga jauh-jauh amat dari gue, cuma aja jauh lebih cantik dari gue, berdiri dibelakang gue sambil ngeliatin pemandangan didepan sana dengan pandangan aneh.
“Gue pikir mereka udah jadian dari dulu. Abisnya mereka udah deket banget kayak orang pacaran gitu.” Sahut Raisha. Gue mengangguk.
“Gue pikir juga gitu.”
Raisha kini ganti menatap gue aneh, “Bukannya lo tempat curhatan mereka ya, Nay?”
Gue ngangkat bahu singkat, “Tapi gue ga suka tanya-tanya soal begituan. Lo tahu kan gue sebenernya gak pernah suka nyampurin urusan orang. Orang-orang aja yang suka nyampurin gue ke urusan mereka.”
Terdengar riuh rendah dari gerombolan penonton dilapangan. Ternyata Adita sudah menerima cinta Ryan.
“At least they have their happy ending finally.” Kata gue ke Raisha lalu beranjak menuju kantin.
2 tahun yang lalu
Gue gak tahu apa yang udah direncanain sama Tuhan. Gue gak cuma satu SMA sama pasangan Ryan-Adita, tapi juga kini berada dalam satu jurusan yang sama saat kami kuliah. Jurusan Sastra Inggris salah satu Universitas terkemuka di Jakarta. Dan mereka entah bagaimana menjadi incaran para kakak kelas karena sudah pacaran sebelum diresmikan menjadi mahasiswa. Ini bukan masalahnya. Percaya sama gue, bakal ada masalah yang lebih parah dari ini.
Gue ketemu temen baru yang super seru di Universitas ini. Salah satunya bernama Rani. Armelia Syahrani. Ratu hedonstatik mahasiswa baru jurusan Sastra Inggris. Oke, gue berlebihan. Tapi yang jelas, dari cara dia pakai barang-barang branded, gaya rambut dia yang eksis abis, atau pacar dia yang anak pengusaha kaya Jakarta Pusat, dia bisa dibilang hedon. Bagusnya, dia bukan tipikal anak gaul Jakarta yang mencibir para kalangan bawah. Ia bisa berbaur dan gue akuin aja kalo Rani emang cewek yang asik.
Gue baru tahu kalo pacar dia adalah temen gue saat ospek perkenalan Universitas saat gue udah lumayan deket sama Rani. Gue sama Radit –pacar Rani- waktu itu adalah temen sebangku. Kita ngobrol dan gue ngerasa cocok sama nih cowok. Sebagai cowok, dia gak berlebihan dan down to earth banget.
“Lo gak punya pacar, Nay?”
Gue menggeleng menjawab pertanyaan Radit.
“Kenapa?”
“Sekarang gue tanya deh, lo pacaran buat apa?”
Radit terlihat berpikir, “Buat…. buat apa ya?”
“Nah!” gue menjentikkan jari didepan muka Radit, “That’s the point! Kalo gak ada gunanya, buat apa pacaran? Mending langsung nikah.” Jawab gue enteng. Radit kembali terlihat berpikir. Saat itu aku belom mengetahui siapa pacar Radit. Tak tahu sama sekali bahwa ia adalah Rani, yang nantinya jadi sahabatku.
..
Sering tiba-tiba gerombolan Rani menghampiri gue cuma buat ngajakin gue shopping dengan alasan mereka minta advice karena selera fashion gue yang tinggi. Yang gue heran, mereka apa gak pernah ngeliat cara berpakaian gue tiap kali ke kampus? Jeans dan kemeja gombrong dengan daleman kaos oblong + sepatu sneakers? They are crazy.
Pada akhirnya gue ikutan juga. Ada dibelakang, baru muncul saat mereka minta pendapat gue. Atau malah gue ngabur ke toko kaset atau toko buku atau toko alat elektronik dideket toko baju yang mereka satroni. Mendadak gue tahu rasanya jadi Radit dan juga semua cowok-cowok mereka.
Sering seperti itu meskipun gue juga bisa berbaur dengan baik dengan mahasiswa mahasiswi lain yang notabene tidak seperti mereka.
Sekarang
Boleh gue bilang kalau mungkin Tuhan sudah merencanakan semua ini pada kami?
Well, jadi beginilah yang terjadi pada suatu hari. Rani entah bagaimana bertengkar dengan Radit yang menyebabkan hubungan mereka dalam bahaya. 3 hari berturut-turut Rani menangis ke gue lewat telepon ataupun saat kami bertemu secara langsung. Radit sendiri mengaku bahwa yang menyebabkan mereka bertengkar adalah hal yang super sepele.
Anehnya, hal yang sama juga dialami oleh Ryan dan Adita. Ryan, yang juga entah bagaimana, merasa bahwa Adita telah berubah. Adita yang tidak tahu apa yang berubah dari dirinya, tersinggung dengan Ryan. Mereka berdua pun menumpahkan segalanya padaku. Gue? Berada dalam lingkaran yang membelit ini.
Pagi ini Gue dan Radit janjian bertemu di sebuah taman pusat Universitas kami tanpa sepengetahuan Rani. Tadi pagi gue sempat ketemu Rani sekilas namun sepertinya ia sedang sibuk mengetik pesan pada seseorang dengan Blackberry nya. Jadi kuabaikan saja.
Radit meneriaki nama gue dari kejauhan, “Naya!”
Gue menoleh dan melambai singkat pada cowok itu lalu menghampirinya, “Langsung aja deh kalo lo mau cerita.”
Radit sangat serius menceritakan apa yang terjadi dengan dia dan Rani. Ia mengatakan bahwa sepertinya Rani kini sudah memiliki gebetan lain selain dirinya dan cowok itu berasal dari jurusan gue.
“Serius lo?” tanya gue aneh. Gue belum pernah dengar yang satu ini, “Gak mungkin deh kayaknya.”
Radit mengangguk yakin, “Lo kenal senior lo yang namanya Aris?”
Gue mengangguk, “Dia cowoknya?”
Kembali Radit mengangguk, “Gue beberapa kali mergokin inbox, twitter, dan facebook Rani. Isinya ya Aris itu.”
Rani? Sama Bang Aris? Gue masih ngernyitin dahi karena keheranan. Abang yang satu itu emang deket sama semua mahasiswa baru. Dia ada disemua inbox handphone setiap anak. Tapi gue diem aja. Ngebiarin Radit berspekulasi.
“Trus?”
“Gue bakal mutusin dia. Gimana menurut lo?”
Gue ngangkat bahu pelan, “Terserah lo. Tapi jangan salahin gue kalo lo nyesel nantinya. Belum tentu yang lo tuduhin itu bener.” Gue pergi dari sebelah Radit. Gue biarin dia mikir. Pilihan yang mudah sebenarnya kalo dia emang pinter.
..
“Rani mana, Des?” gue tanya sama Desy, salah satu gerombolan hedonstatik juga.
Desy mengangkat bahunya, “Gak tau deh, Nay. Dari tadi pagi udah ngilang gak tau kemana.”
Ini aneh. Gak biasanya Rani pergi tanpa sepengetahuan teman-temannya, “Oke makasih. Tar kalo ada kabar dari Rani, kasih tau gue ya.”
Gue gak peduli sama mereka dan lingkaran yang membelit, menjerat disekitar gue. Belum. Ini belum masalah yang sesungguhnya.
..
Gue lagi serius baca buku saat tiba-tiba saja Rani menjatuhkan dirinya di sofa sebelah gue sambil menunjukkan wajah yang ceria.
“Eh apaan sih lo, Ran.”
“Nayaaaaaa… gue mau cerita sesuatu sama lo. Tapi lo jangan kaget yaaa.” Ia cekikikan sendiri bahkan sebelum bercerita.
“Hmm…”
Rani terlihat sangat merekah, “Coba tebak gue seharian ini jalan sama siapa?”
“Gue bukan cenayang, Ran.” Sahut gue enteng sambil tetep baca buku.
“Sama….. Ryan!”
“HAH??!!” gue mendelik lebar, “Yang bener lo? Ryan temen kita? Temen gue?”
Rani mengangguk-angguk mantap dengan masih tersenyum-senyum, “Dia tuh keren banget tau, Nay…” ia sudah seperti seseorang yang sedang mabuk akibat menenggak satu liter alkohol.
“Tapi dia udah punya pacar!”
“Tapi mereka kan lagi berantem!”
“Tapi lo gak berhak kayak gini!” gue marah. Super marah. Gue kenal Ryan dan Adita jauh lebih lama daripada gue kenal Rani ataupun Radit. Gue gak peduli mereka putus, yang penting Ryan dan Adita gak boleh putus! Mereka adalah pasangan kesayangan satu sekolahan SMA gue. Gak juga karena Rani.
“Lo mau ngatur gue, Nay? Atur aja kalo lo bisa.” Ujarnya dengan pandangan sarkatis, “Gue bisa ngelakuin apa aja kok.” Ia bangkit dan berlalu.
Gue menghela napas dan menelpon seseorang. Ryan. Saat nada panggil pertama, ia langsung mengangkat teleponnya. Gue langsung marah-marah ga karuan. Memarahinya karena pergi bersama Rani dan tanpa diketahui oleh Adita. Memarahinya karena ini semua seolah tidak sebanding dengan perjuangannya mendapatkan Adita. Gue menutup pembicaraan dengan kata-kata kasar khas Amerika.
Gue tidak akan menerima kalau Adita juga menangis-nangis padaku. Semua udah gue bicarain sama Ryan. Ini masalah mereka, bukan masalah gue.
Gue gak mau lagi berurusan dengan mereka semua. Terserah apa masalah yang mereka hadapi, gue gak bakal ada lagi buat nampung semua sampah mereka.
Pada akhirnya gue gak peduli. Ada banyak hal yang harus gue urus diluar semua tetek bengek tidak penting ini. Jadi saat mereka berlari nyari gue dan memohon agar bisa menceritakan semua ke gue serta minta pendapat gue, gue bakal pergi. Apa gunanya gue peduli kalo mereka gak peduli sama orang yang sayang sama mereka sendiri?
I’m done!
We were born to die…
It’s beautiful :’)